Minggu, 05 Desember 2010

MAKALAH PSIKOLOGI TENTANG REAKSI DAN POLA PERKEMBANGANSOSIAL EMOSIONAL ANAK USIA DINI

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Perkembangan merupakan perubahan ke arah kemajuan menuju terwujudnya hakekat manusia yang bermartabat atau berkualitas. Usia lahir sampai dengan pra sekolah merupakan masa keemasan sekaligus dengan masa kritis dalam tahapan kehidupan manusia yang akan menentukan perkembangan anak selanjutnya, masa ini merupakan masa yang tepat untuk meletakan dasar-dasar pengembangan fisik, bahasa, sosial, emosional, moral dan nilai-nilai agama, kognitif dan seni.
Keterampilan sosial-emosional pada anal usia dini akan menjadi pondasi bagi anak-anak untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab, peduli kepada orang lain, dan produktif.

BAB II
PEMBAHASAN

Kajian teoritis
Perkembangan adalah perubahan kearah kemajuan menuju terwujudnya hakekat manusia yang bermartabat atau berkualitas. Perkembangan sosial anak usia dini, yaitu perkembangan sosial emosional anak dari masa bayi hingga masa- masa awal sekolah dasar.
Perkembangan sosial emosional meliputi perkembangan dalam hal emosi kepribadian, dan hubungan interpersonal. Perkembangan sosial emosional berkisar tentang proses sosialisasi, yaitu proses ketika anak mempelajari nilai- nilai dan perilaku yang diterima dari masyarakat.
Kesiapan sosial emosional seorang anak merupakan faktor penting bagi keberhasilan pengembangan anak usia pra sekolah, keberhasilannya pada tahun- tahun awal di sekolah, bahkan keberhasilannya kemudian hari

Reaksi Dan Pola Emosional Pada Bayi
Keadaan psikologis pada masa bayi adalah pada masa lahir emosi tampak dalam bentuk sederhana hampir tidak terlihat, dapat bertambahnya usia berbagai reaksi emosional menjadi lebih dapat dibedakan dan emosional dapat ditimbulkan rangsangan. Ada dua ciri yaitu :
1.Emosi bayi sangat berbeda misalnya disertai oleh reaksi perilaku yang terlampau hebat bagi rangsangan yang menimbulkannya terutama dalam hal maram atau takut.
2.Emosi lebih mudah dibiasakan pada masa bayi dibandingkan pada periode lain yang disebabkan karena kemampuan intelektual pada masa bayi sehingga mudah bereaksi terhadap rangsangan. Contohnya: bayi tidak mau masuk ke kamar dokter kalau kunjungan terakhir disuntik.
Pola emosional yang lazim pada bayi adalah kemarahan, ketakutan, rasa ingin tahu, dan kegembiraan.

Perkembangan Sosial Emosional Pada Masa Usia Pra sekolah
Dalam periode pra sekolah, anak mampu mengembangkan diri dengan berbagai orang dari berbagai tatanan, yaitu keluarga, sekolah dan teman sebaya. Perkembangan sosial biasanya dimaksudkan, sebagai perkembangan tingkah laku anak dalam menyesuaikan diri dengan aturan- aturan yang berlaku di dalam masyarakat dimana anak berada.
Perkembangan sosial diperoleh dari kematangan dan kesempatan belajar dari berbagai respon lingkungan terhadap anak, pada usia dua tahun anak- anak mulai memantapkan identitas dirinya dan selalu ingin menunjukan kemauan dan kemampuannya dengan berbagai pertanyaan. Tidak jarang pada saat tersebut anak- anak dinilai sebagai anak keras kepala.
Di usia ini anak mengalami banyak perubahan baik fisik dan mental, dengan karakteristik sebagai berikut:
a.Berkembangnya konsep diri
b.Munculnya egosentris
c.Rasa ingin tahu yang tinggi
d.Imajinasi yang tinggi
e.Belajar menimbang rasa
f.Munculnya kontrol internal
g.Belajar dari lingkungannya
h.Berkembangnya cara berfikir
i.Berkembangnya kemampuan bahasa
j.Munculnya perilaku “buruk”

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari uraian yang telah dikemukakan,dapat menarik kesimpulan bahwa: sejak bayi, seseorang sudah ada emosi yang tampak yang dapat ditimbulkan melalui rangsangan.
Perkembangan sosial-emosional diperoleh dari kematangan dan kesempatan belajar dari berbagai respon lingkungan terhadap anak.
Pada usia dini anak mengalami perubahan baik fisik dan mental dengan berbagai karakter.
Setiap perkembangan memiliki tahapan-tahapan yang mengikuti pola atau arah tertentu begitupun dengan perkembangan sosial-emosional.

Saran
Mengetahui pola dan reaksi sosial-emosional terhadap anak sangat penting untuk menjelaskan keterampilan emosi dan sosial karena anak akan memperoleh manfaat dari itu yaitu anak-anak dengan keterampilan emosional lebih bahagia, lebih percaya diri dan lebih sukses di sekolah, dan akan menjadi pondasi bagi anak-anak untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab, peduli pada orang lain.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

http://psikologi.or.id/ 

http://gudangmakalah.blogspot.com.




http://www.anneahira.com/psikologi-anak.
http://www.anakciremai.com/2009/04/makalah-ilmu-pendidikan-tentang.html
http://www.sekolahorangtua.com/2008/04/28/menghadapi-ledakan-emosi-anak/

Kamis, 02 Desember 2010

MAKALAH PSIKOLOGI TENTANG PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK Pra-SEKOLAH


PEREKEMBANGAN SOSIAL ANAK
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan yang terjadi pada anak meliputi segala aspek kehidupan yang mereka jalani baik bersifat fisik maupun non fisik. Perkembanmgan berarti serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman.
Kesepakatan para ahli menyatakan bahwa :
yang dimaksud dengan perkembangan itu adalah suatu proses perubahan pada seseorang kearah yang lebih maju dan lebih dewasa, naqmun mereka berbeda-beda pendapat tentang bagaimana proses perubahan itu terjadi dalam bentuknya yang hakiki.

Beberapa teori perkembangan manusia telah mengungkapkan bahwa manusia telah tumbuh dan berkembang dari masa bayi kemasa dewasa melalui beberapa langkah jenjang. Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangnya itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi ini faktor intelektual dan emosional mengambil peranan penting. Proses tersbut merupakan proses sosialisai yang mendudukkan anak-anak sebagai insan yang yang secara aktif melakukan proses sosialisasi

B. Rumusan Masalah
Sehubungan dengan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah di dalam makalah ini adalah :
1. Apa makna perkembangan sosial anak ?
2. Bagaimana bentuk – bentuk tingkah laku sosial pada anak ?
3. Faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan sosial anak ?
4. Bagaimana pengaruh perkembangan sosial anak terhadap tingkah laku anak ?
C. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui makna perkembangan sosial anak ; mengetahui bentuk-bentuk perkembangan sosial anak ; mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial anak dan pengaruh perkembangan sosial anak terhadap tingkah laku anak.
C. Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari tiga bagian, yaitu Pertama: Pendahuluan, meliputi latar belakang masalah, rumusan masala dan sistimatika uraian. Kedua: Isi atau bagian teori dan hasil meliputi ; makna perkembangan sosial anak, bentuk-bentuk perkembangan sosial anak ; faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial anak dan pengaruh perkembangan sosial terhadap tingkah laku anak.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Makna Perkembangan Sosial Anak
Syamsu Yusuf (2007) menyatakan bahwa Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagao proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi ; meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama.
Pada awal manusia dilahirkan belum bersifat sosial, dalam artian belum memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan sosial anak diperoleh dari berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya.
Kebutuhan berinteraksi dengan orang lain telah dirsakan sejak usia enam bulan, disaat itu mereka telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Anak mulai mampu membedakan arti senyum dan perilaku sosial lain, seperti marah (tidak senang mendengar suara keras) dan kasih sayang. Sunarto dan Hartono (1999) menyatakan bahwa :
Hubungan sosial (sosialisasi) merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial mulai dari tingkat sederhana dan terbatas, yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa dan bertambah umur, kebutuhan manusia menjadi
kompleks dan dengan demikian tingkat hubungan sosial juga berkembang amat kompleks.
Dari kutipan diatas dapatlah dimengerti bahwa semamin bertambah usia anak maka semakin kompleks perkembangan sosialnya, dalam arti mereka semakin membutuhkan orang lain. Tidak dipungkiri lagi bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan mampu hidup sendiri, mereka butuh interaksi dengan manusia lainnya, interaksi sosial merupakan kebutuhan kodrati yang dimiliki oleh manusia.
B. Bentuk – Bentuk Tingkah laku Sosial
Dalam perkembangan menuju kematangan sosial, anak mewujudkan dalam bentuk-bentuk interkasi sosial diantarannya :
1. Pembangkangan (Negativisme)
Bentuk tingkah laku melawan. Tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin atau tuntutan orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai dengan kehendak anak. Tingkah laku ini mulai muncul pada usia 18 bulan dan mencapai puncaknya pada usia tiga tahun dan mulai menurun pada usia empat hingga enam tahun.
Sikap orang tua terhadap anak seyogyanya tidak memandang pertanda mereka anak yang nakal, keras kepala, tolol atau sebutan negatif lainnya, sebaiknya orang tua mau memahami sebagai proses perkembangan anak dari sikap dependent menuju kearah independent.
2. Agresi (Agression)
Yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal). Agresi merupakan salah bentuk reaksi terhadap rasa frustasi ( rasa kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhan atau keinginannya). Biasanya bentuk ini diwujudkan dengan menyerang seperti ; mencubut, menggigit, menendang dan lain sebagainya.
Sebaiknya orang tua berusaha mereduksi, mengurangi agresifitas anak dengan cara mengalihkan perhatian atau keinginan anak. Jika orang tua menghukum anak yang agresif maka egretifitas anak akan semakin memingkat.
3. Berselisih (Bertengkar)
Sikap ini terjadi jika anak merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap atau perilaku anak lain.
4. Menggoda (Teasing)
Menggoda merupakan bentuk lain dari sikap agresif, menggoda merupakan serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan) yang menimbulkan marah pada orang yang digodanya.
5. Persaingan (Rivaly)
Yaitu keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong oleh orang lain. Sikap ini mulai terlihat pada usia empat tahun, yaitu persaingan prestice dan pada usia enam tahun semangat bersaing ini akan semakin baik.
6.
Kerja sama (Cooperation)
Yaitu sikap mau bekerja sama dengan orang lain. Sikap ini mulai nampak pada usia tiga tahun atau awal empat tahun, pada usia enam hingga tujuh tahun sikap ini semakin berkembang dengan baik.
7. Tingkah laku berkuasa (Ascendant behavior)
Yaitu tingkah laku untuk menguasai situasi sosial, mendominasi atau bersikap bossiness. Wujud dari sikap ini adalah ; memaksa, meminta, menyuruh, mengancam dan sebagainya.
8. Mementingkan diri sendiri (selffishness)
Yaitu sikap egosentris dalam memenuhi interest atau keinginannya
9. Simpati (Sympaty)
Yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain mau mendekati atau bekerjasama dengan dirinya.
C. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial Anak
Perkembangan sosial anak dipengaruhi beberapa faktor yaitu :
1. Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga, pola pergaulan, etika berinteraksi dengan orang lain banyak ditentukan oleh keluarga.
2. Kematangan
Untuk dapat bersosilisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik dan psikis sehingga mampu mempertimbangkan
proses sosial, memberi dan menerima nasehat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional, disamping itu kematangan dalam berbahasa juga sangat menentukan.
3. Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi keluarga dalam masyarakat. Perilaku anak akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya.
4. Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, anak memberikan warna kehidupan sosial anak didalam masyarakat dan kehidupan mereka dimasa yang akan datang.
5. Kapasitas Mental : Emosi dan Intelegensi
Kemampuan berfikir dapat banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Perkembangan emosi perpengaruh sekali terhadap perkembangan sosial anak. Anak yang berkemampuan intelek tinggi akan berkemampuan berbahasa dengan baik. Oleh karena itu jika perkembangan ketiganya seimbang maka akan sangat menentukan keberhasilan perkembangan sosial anak.
D. Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku
Dalam perkembangan sosial anak, mereka dapat memikirkan dirinya dan orang lain. Pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah kepenilaian diri dan kritik dari hasil pergaulannya dengan orang lain. Hasil pemikiran dirinya tidak akan diketahui oleh orang lain, bahkan sering ada yang menyembunyikannya atau merahasiakannya.
Pikiran anak sering dipengaruhi oleh ide-ide dari teori-teori yang menyebabkan sikap kritis terhadap situasi dan orang lain, termasuk kepada orang tuanya. Kemampuan abstraksi anak sering menimbulkan kemampuan mempersalahkan kenyataan dan peristiwa-peristiwa dengan keadaan bagaimana yang semstinya menurut alam pikirannya.
Disamping itu pengaruh egoisentris sering terlihat, diantaranya berupa :
1. Cita-cita dan idealism yangbaik, terlalu menitik beratkan pikiran sendiri, tanpa memikirkan akibat labih jauh dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis yang mungkin menyebabkan tidak berhasilnya menyelesaikan persoalan.
2. Kemampuan berfikir dengan pendapat sendiri, belum disertai pendapat orang lain daalm penilaiannya.
Melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan serta dalam menghadapi pendapat orang lain, maka sikap ego semakin berkurang dan diakhir masa remaja sudah sangat kecil rasa egonya sehingga mereka dapat bergaul dengan baik.

BAB III
KESIMPULAN
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Pada awal manusia dilahirkan belum bersifat sosial, dalam artian belum memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan sosial anak diperoleh dari berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya.Perkembangan sosial individu dimulai sejak anak usia 18 bulan.
Faktor lingkungan keluarga merupakan faktor yang paling mempengaruhi perkembangan sosial anak, semakin bagus tata cara keluarga, maka perkembangan sosial anak juga semakin bagus.
Perkembangan sosial juga sangat mempengaruhi kepribadian anak, anak yang mempunyai daya intelegensi yang tinggi, perkembangan sosial yang baik pada umumnya memiliki kepribadian yang baik.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Cahyani Ani. Mubin, Psikologi perkembangan; cet I (Quantum Teaching, Ciputat Press Group, 2006).
Hurlock B Elizabeth, Developmental Psikologi; Mc Grow Hill, Inc, 1980, Alih Bahasa, Istiwidayanti dan suedjarwo, Psikologi Perkembangan suatu pendekatan sepanjang Rentang Kehidupan, Jakarta, Erlangga, tt.
LN Yusuf Syamsu; Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung : Remaja Rosdakarya.
Nurihsan Juntika, 2007, Buku Materi Pokok Perkembangan Peserta didik , Bandung; Sekolah Pasca Sarjana (UPI)
Santrock, John W, Life-Span Development, WM, C Brown Comunication, Inc, 1995, Alih bahasa Achmad Chusairi, S.PSI, Perkembangan Masa Hidup Jilid I, Jakarta, Erlangga, 2002.
Suryabrata Sumadi, Psikologi Pendidikan; (PT Raja Grafindo, : 2004).

Jumat, 19 November 2010

Interprener

ENTREPRENEUR adalah Seseorang yang mampu mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas atau dengan kata lain berani mengambil resiko.

wirausahawan sebagai "orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menyusun cara baru dalam berproduksi, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, mengatur permodalan operasinya, serta memasarkannya." Sedangkan Louis Jacques Filion menggambarkan wirausahawan sebagai orang yang imajinatif, yang ditandai dengan kemampuannya dalam menetapkan sasaran serta dapat mencapai sasaran-sasaran itu. Ia juga memiliki kesadaran tinggi untuk menemukan peluang-peluang dan membuat keputusan.

Minggu, 07 November 2010

PERAN GURU DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam
pasal 3 dinyatakan bahwa fungi s pendidikan nasional adalah
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.
Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan peran serta dari
semua pihak, antara lain adalah lembaga pendidikan. Berbagai upaya
terlah dilakukan oleh lembaga pendidikan utuk meningkatkan mutu
pendidikan, seperti penyediaan media pembelajaran laboratorium
perpustakaan dan para penyelenggara pendidikan terutama tenaga
pengajarnya. Di sisi lain untuk meningkatkan kualitas pendidikan
diadakannya tes setiap akhir semester untuk mengetahui prestasi siswa
dalam menyerap materi pelajaran yang diberikan serta untuk mengetahui
sejauh mana keberhasilan guru dalam menyajikan materi pelajaran dalam
kurung waktu tertentu sesuai dengan kurikulum. Peningkatan kualitas
guru pun dalam proses belajar mengajar termasuk salah satu upaya
peningkatan mutu pendidikan.

BAB II
TINJAUAN MENGENAI
MOTIVASI BELAJAR
2.1 Pengertian Motivasi dan perbedaannya dengan
motif
Disamping konsep motivasi terdapat pula konsep motif. Kedua
konsep ini sebenarnya berbeda namun dalam penggunaannya sering
tertukar.
Morgan (1975) menegaskan adanya perbedaan antara kedua
konsep tersebut. Menurutnya, motif merupakan suatu kekuatan dalam diri
yang mendorong seseorang melakukan suatu tindakan, selaras dengan
kebutuhan yang ada dalam dirinya. Sedangkan motivasi adalah suatu
keadaan yang menggerakkan, mengarahkan tingkah laku individu
(Morgan, 1979) . Dengan demikian, motivasi merupakan perwujudan dari
potensi motif dalam diri individu yang akan dimanifestasikan dalam bentuk
tingkah laku nyata, selaras dengan situasi yang dihadapinya.
McClelland (1975) mengatakan pula bahwa setiap tingkah laku
mempunyai motif. Motif sebenarnya timbul karena adanya kebutuhan.
Pada dasarnya manusia mempunyai kebutuhan yang biasa dikenal dengan
istilah need. Adanya kekurangan dalam diri individu (dalam arti adanya
kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan apa yang menjadi
kenyataan) menandakan adanya kebutuhan. Adanya kebutuhan inilah
yang menimbulkan motif, yaitu kekuatan dalam diri yang mendorong dan
mengarahkan tingkah laku individu agar dapat memuaskan kebutuhannya
tersebut.
2.2 Jenis Motivasi
Woolfolk (1995) menggolongkan motivasi ke dalam dua bagian
yaitu motivasi intrinsik yang berasal dari faktor minat atau ketertarikan,
serta motivasi ekstrinsik.
a. Motivasi Instrinsik
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri
tanpa ada paksaan dan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan
sendiri, misalnya siswa belajar karena ingin mengetahui seluk beluk
suatu masalah selengkap-lengkapnya, ingin menjadi orang yang
terdidik, semua keinginan itu berpangkal pada penghayatan kebutuhan
dari siswa berdaya upaya, melalui kegiatan belajar untuk memenuhi
kebutuhan itu. Namun sekarang kebutuhan ini hanya dapat dipenuhi
dengan belajar giat, tidak ada cara lain untuk menjadi orang terdidik
atau ahli, selain belajar. Biasanya kegiatan belajar disertai dengan
minat dan perasaan senang.
b. Motivasi Ekstrinsik
Jenis motivasi ini timbul akibat pengaruh dari luar individu, apakah
karena ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehingga dengan
kondisi yang demikian akhirnya ia mau belajar.
Winkel (1991) mengatakan “Motivasi Ekstrinsik, aktivitas belajar dimulai
dan diteruskan berdasarkan kebutuhan dan dorongan yang tidak secara
mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar sendiri”.
Perlu ditekankan bahwa dorongan atau daya penggerak ialah belajar,
bersumber pada penghayatan atas suatu kebutuhan, tetapi kebutuhan
itu sebenarnya dapat dipengaruhi dengan kegiatan lain, tidak harus
melalui kegiatan belajar. Motivasi belajar selalu berpangkal pada suatu
kebutuhan yang dihayati oleh orangnya sendiri, walaupun orang lain
memegang peran dalam menimbulkan motivasi itu, yang khas dalam
motivasi ekstrisik bukanlah ada atau tidak adanya pengaruh dari luar,
melainkan apakah kebutuhan yang ingin dipenuhi pada dasarnya hanya
dapat dipenuhi dengan cara lain. Berdasarkan uraian di atas maka
motivasi belajar esktrinsik dapat digolongkan antara lain : belajar demi
memenuhi kewajiban, belajar demi menghindari hukuman, belajar demi
memperoleh hadiah materi yang dijanjikan, belajar demi meningkatkan
gengsi social, atau belajar demi memperoleh pujian dari orang yang
penting (guru dan orang tua).
Belajar demi tuntutan jabatan yang ingin dipegang atau demi
memenuhi persyaratan kenaikan jenjang/golongan administrasi.
2.3 Proses Motivasi
Pada umumnya tingkah laku diarahkan pada suatu tujuan dalam
rangka memenuhi kebutuhan indivdu. Proses motivasi sebagai pengarah
tingkah laku dapat dikatakan sebagai suatu siklus dan merupakan suatu
system yang terdiri dari tiga elemen. Ketiga elemen tersebut adalah:
kebutuhan (needs), dorongan (drives), dan tujuan (goal).
Luthans (1981:150) mengemukakan ketiga elemen tersebut
sebagai berikut:
a. Kebutuhan (needs)
Kebutuhan merupakan suatu kekurangan/deficiency . dalam
pengertian keseimbangan, kebutuhan tercipta apabila tejradi
ketidakseimbangan yang bersifat fisiologis atau psikologis.
b. Dorongan (drives)
Suatu dorongan didefinisikan secara sederhana sebagai suatu
kekurangan disertai pengarahan. Menurut Hull’s dorongan berorientasi
pada tindakan untuk mencapai tujuan.
c. Tujuan (goals)
Suatu tujuan dari siklus motivasi adalah segala sesuatu yang akan
meredakan suatu kebutuhan dan akan mengurangi dorongan. Jadi
pencapaian suatu tujuan cenderung akan memulihkan keseimbangan
yang bersifat fisiologis dan psikologis.
2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motif
Berprestasi
Mc Clelland (1953) mengungkapkan bahwa terdapat faktor-faktor
yang mempengaruhi motif berprestasi, meliputi:
a. Faktor Individual
Dalam hal ini, faktor individual yang dimaksud terutama adalah faktor
intelegensi dan faktor penilaian individu tentang dirinya. Intelegensi
merupakan kecakapan yang bersifat potensial yang dimiliki seseorang
dan merupakan salah satu unsur penting dalam proses pemecahan
masalah yang dilakukan individu. Apabila individu mempunyai taraf
intelegensi diatas rata-rata maka kemungkinan motif berprestasinya
tinggi dan apabila individu mempunyai taraf intelegensi di bawah ratarata
maka kemungkinan taraf motif berprestasinya rendah. Taraf
kecerdasan (intelegensi) yang dimiliki indviidu juga akan turut
menentukan atau mempengaruhi prestasi yang dicapainya.
Faktor lainnya adalah penilaian individu mengenai dirinya sendiri.
Misalnya mengenai kondisi fisik, kemampuan melakukan suatu tugas
atau apa yang dirasakannya. Hal ini sejalan dengan pendapat DeCecco
& Crawford (1977), bahwa dalam membicarakan motivasi tidak dapat
dilepaskan dari faktor kepribadian individu seperti sikap dan nilai-nilai
yang ada dalam dirinya.
b. Faktor Lingkungan
Maksud dari faktor lingkungan disini adalah segala sesuatu yang berada
diluar diri individu, yang turut mempengaruhi motif berprestasinya.

BAB III
PERAN GURU DALAM MENINGKATKAN
MOTIVASI BELAJAR SISWA
Bila merujuk pada pandangan Luthan, F. dan McClelland dapat disimpulkan bahwa pada diri setiap manusia telah tersedia
potensi energy atau sebuah kekuatan yang dapat menggerakkan dan
mengarahkan tingkah lakunya pada tujuan. Di dalamnya tercakup pula
potensi energi/kekuatan untuk berprestasi (motif berprestasi) yang
kekuatannya berbeda pada setiap manusia. Apabila terpicu, potensi energi
berprestasi ini keadaannya akan meningkat bahkan akan menggerakkan
dan mengarahkan pada tingkah laku belajar. Dengan demikian hal ini
dapat memberikan pandangan sekaligus harapan bagi para pendidik/guru
bahwa:
1) Setiap diri anak didik/siswa telah dibekali kekuatan untuk berprestasi
(motivasi berprestasi).
2) Kekuatan berprestasi setiap siswa berbedabeda.
3) Kekuatan berprestasi setiap siswa dapat
ditingkatkan.
4) Setiap siswa dapat menunjukkan tingkah laku
belajar atau usaha-usaha untuk mencapai tujuan belajar (memperoleh
pengetahuan, pemahaman, dan pengembangan belajar).
5) Di samping itu, guru perlu lebih menghayati
perannya sebagai pendidik sehingga muncul rasa tanggung jawab dan
kepercayaan diri dalam memproses anak didik.
6) Guru membutuhkan upaya-upaya yang dapat
memicu bergeraknya motivasi berprestasi setiap siswa.

Faktor individual, keluarga, dan lingkungan merupakan
factor-faktor yang dapat mempengaruhi motivasi berprestasi. Mengingat
hal itu maka guru seyogyanya melakukan hal berikut ini:
1) Mengenal setiap siswa secara pribadi agar dapat melakukan
pendekatan kepada siswa secara tepat sesuai keadaan kemampuan
(kekuatan dan kelemahan pribadi) siswa.
2) Menciptakan suasana/iklim belajar yang menyenangkan.
3) Di samping itu, kiranya yang perlu dilakukan guru agar tercipta
suasana kelas yang menyenangkan adalah apabila pendidik menguasai
berbagai methode dan teknik mengajar dan menggunakannya secara
tepat. Penguasaan berbagai metode dan teknik mengajar serta
penerapannya secara tepat membuat guru mampu mengubah-ubah
cara mengajarnya sesuai dengan suasana kelas.
4) Khusus pada siswa yang sudah tergolong remaja dan menjelang
dewasa, seyogyanya guru menempatkan dirinya sebagai fasilitator dan
dapat menerapkan pola mengajar andragogi pada siswa .

BAB IV
KESIMPULAN DAN PENUTUP
Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya dapat disimpulkan
bahwa:
1. Motivasi belajar siswa menunjukkan pengertian sebagai kekuatan
dalam diri siswa (energy) yang mendorong siswa melakukan usahausaha
mencapai tujuan belajar. Disamping itu menunjukan adanya
orientasi siswa / arah tingkah laku siswa pada pencapaian tujuan
belajar.
2. Dalam rangka meningkatkan motivasi belajar siswa, hendaknya guru
memperhatikan hal berkut ini:
a. Memiliki paradigm/pandangan positif terhadap upaya peningkatan
motivasi siswa
b. Memiliki keyakinan kuat bahwa pada setiap diri siswa telah tersedia
kekuatan besar (berupa motivasi belajar) untuk menunjukkan
tingkah laku belajar.
c. Peran guru adalah melakukan upaya yang dapat memicu
bergeraknya kekuatan/energy tersebut secara lebih tepat dan
cepat.

Rabu, 20 Oktober 2010

sekilas tentang qu ^_^

alhamdulillah,akhirnya aq dapet keja sampingan itung-itung buat nambah uang jajan. kadang aq suka iri melihat orang lai yang segalanya tinggal minta sama orang tua. sedangkan aq mw beli barang mewah harus nabung dulu atau harus cari keja sampingan namun yang tidak mengganggu aktivitas kuliah qu.

tapi aq yakin Allah maha adil,apa yang mereka dapatkan belum tentu membuat mereka bahagia dan apa yang aq dapat,belumtentu pula mereka bisa dapatkan dengan uang atau harta.

sekarang kerja sampingan qu adalah membuka les untuk anak -anak SD di sekitar komplek qu. Alhamdulillah,saat aq mengajar,berarti saat itu juga aq mendapatkan pengalaman dan pelajaran baru.

semoga aq bisa menjadi anak yang dapat membahagiakan orang yang ada di sekeliling ku.

HANTU ??? ihh,,serem

hantu yang biasa kita kenal dengan sosok yang sangat misterius dan sangat menyeramkan.namun apakah sebenarnya hantu itu?

hantu secara umum merujuk pada kehidupan setelah kematian. Hantu juga dikaitkan dengan roh atau arwah yang meninggalkan badan karena kematian.
bagi agama qu,hantu itu dikelompokkan sebagai setan dari golongan jin yang kerap mengganggu manusia. Jin dikenali sebagai mahkluk halus yang tinggal di dalam alam lain. Bagaimanapun, kumpulan jin ini bisa memasuki alam manusia. Ada sebagian jin yang membuat hubungan dengan manusia dan patuh terhadap manusia, dengan tujuan menyesatkan manusia seperti merusakkan akidah.

di negara qu,hantu itu sangat bermacam-macam,ini hanya sebagian yang aq tau dan sangat umum di kalangan masyarakat:
  • kuntilanak
  • sundel bolong
  • tuyul
  • pocong
  • genderuwo
  • wewe gombel
  • siluman
  • leyak
  • jenglot

Kamis, 14 Oktober 2010

the CHamVret

Ada 9 anak yang bersahabat dari sejak kelas 1 SMK hingga kini mereka telah lulus bersama-sama. Cerita singkatnya mereka menamakan genknya adalah The chamvret. personilnya terdiri dari 5 perempuan dan 4 lelaki. 5 gadis itu bernama Mela,Wulan,Viany,Fitry,dan Noer. Sedangkan yang lelaki bernama Wawan,Tyaz,Roedy, dan Yayan. Disekolahnya mereka sangat diseganni padahal mereka biasa saja. namun mereka tetap rendah hati kepada semua teman-teman nya.akhir nya mereka lulus dengan nilai yang memuaskan.hingga sekarang mereka masih tetap menjaga komunikasi dengan baik.

PUSING AQ

kadang jalan pikiran manusia sulit tuk dimenerti.kadang dia bahagia dan sesaat dia akan berubah menjadi sedih.tawa yang keluar dari mulutnya belum tentu menandakan hati nya sedang bahagia dan juga air mata yang keluar dari nya belum tentu mengekspresikan kesedihan.apa sich sebenarnya bahagia itu ?
itu pertanyaan setiap manusia yang sangat luas maknanya. sampai saat ini aq sendiri hanya bisa merasakan bahagia,namun sulit tuk mendefinisikannya.

sedih?
Sedih merupakan salah satu emosi akibat berhadapan dengan situasi yang mengecewakan, dan muncul akibat penderitaan kerana luka, derita dan sakit.
hufh dah ahh,,pusing.

Kamis, 07 Oktober 2010

Please dech,,,jangan Dandan terlalu berlebihan!!

Kadang secara blak-blakan,cowok ngaku,hal pertama yang mereka lakukan saat ngajak cewek kenalan adalah mengamati tingkah laku dan penampilan. Cowok paling nggak seneng jalan sama cewek yang setiap sepuluh menit sibuk memeriksa makeup-nya. Jika seorang cewek merasa nyaman tanpa makeup berlebihan ,artinya dia merasa bahagia dengan dirinya sendiri.
Hanya sekedar tips :
Sebagai kaum hawa kita berhak tampil cantik dan menarik di dalam situasi apapun. Tapi nggak perlu berlebihan kan? Sesekali cobalah bersikap cuek dan nggak panik saat riasan memudar atau luntur. Jangan buat cowok menganggap bahwa kita hanya peduli dengan penampilan saja. Bagi mereka, cewek berpenampilan natural terlihat lebih mudah didekati.

Cinta buta,,,Masa sich???

Jatuh cinta itu memang indah bagi mereka yang sedang mengalaminya. Sungguh bermacam-macam alas an seseorang untuk jatuh cinta. Prosesnyapun kadang susah dimengerti. Ada yang suka dari awal ketemu,ada juga yang tumbuh karna telah terbiasa bersama. Lalu,bias juga jatuh cinta karena keterpaksaan,dan juga bias jadi karena inta lama bersemi kembali. Waduh ada-ada aja kan.
Nich perlu anda ketahui,ada beberapa ciri virus cinta buta,,,:
*Selalu menelpon dan mengirim SMS !
Setiap detik qita selalu membanjiri dia dengan telepon dan SMS. Tahu nggak sich ? Hal itu malah bikin dia merasa terganggu dan pastinya bikin dia jadi BT abizz.
*Selalu memberinya hadiah atau bingkisan,,,:
Kita selalu memberinya hadiah atau berupa bingkisan mewah atau mahal untuknya. Tapi apa kita tidak pernah terpikir,kalau cinta itu nggak bias di beli atau ditukar dengan benda apapun.
*Menyebut atau mengaku-ngaku kalau dia itu pacar kita,hah?
Kadang kita punya sahabat atau temen lawan jenis yang sering banget bareng sama kita,sampai – sampai sudah menganggapnya pacar sendiri. Kadang seseorang suka salah mengartikan sebuah perhatian dan kedekatan mereka. Padahal belum tentu apa yang dia anggap itu sama dengan tanggapan orang tersebut.
*Menjadi public enemy
Hati dan kepala yang dipenuhi oleh cinta ternyata mampu memengaruhi lingkungan. Seperti pekerjaan,keluarga,teman dan sampai –sampai diri kita sendiri. Segalanya isa terabaikan karena kita terlalu sibuk dengan pasangan kita.

Senin, 27 September 2010

Hubungan antara internet dan psikologi

Kita bahas dari masing-masing tersebut.internet ialah rangkaian komputer yang terhubung di dalam beberapa rangkaian. Manakala Internet (huruf 'I' besar) ialah sistem komputer umum, yang berhubung secara global dan menggunakan TCP/IP sebagai protokol pertukaran paket .
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya.
menurut saya pribadi, kebutuhan akan komunikasi dan jaringan internet akan semakin kompleks, mengingat kebutuhan manusia yang kian hari semakin banyak dan serba tuntutan.jadi keberadaan internet disini sangat membantu, dan akan lebih efisien dan efektif jika menggunakan internet. 
Internet juga semakin banyak digunakan di tempat umum. Beberapa tempat umum yang menyediakan layanan Internet termasuk perpustakaan, dan Internet cafe/warnet.

Internet dapat berdampak positif :
Internet sebagai media komunikasi,
Media pertukaran data, dengan menggunakan email dan www,
Media untuk mencari informasi atau data,
Kemudahan bertransaksi dan berbisnis dalam bidang perdagangan sehingga tidak perlu pergi menuju ke tempat penawaran/penjualan.
Namun internetpun memberi dampak negatif : Seperti misalnya
Pornografi,
Penipuan,
Carding,dan
Perjudian.