Selasa, 04 Oktober 2011

Psikologi Lintas Budaya (Kebudayaan Indis)

TUGAS
PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA
PENGERTIAN/TINJAUAN PUSTAKA

a. Psikologi
Ilmu yang mempelajari proses-proses mental dan perilaku makhluk hidup, ataupun proses-proses mental dan perilaku itu sendiri.
b. Lintas Budaya
Memahami keragaman budaya yang ada di dunia sekaligus dampak budaya tersebut terhadap kelangsungan masyarakat sosial dalam lingkup budaya tertentu. Sementara kalau dalam psikologi lintas budaya, pembahasannya seputar pengaruh lingkungan budaya terhadap perilaku individu. Fungsi dari lintas budaya sendiri kalau menurut saya untuk merentangkan toleransi kita ketika berhadapan dengan anggota masyarakat dari budaya yang berbeda dengan kita sendiri.
Psikologi Lintas Budaya adalah kajian mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik; mengenai hubungan-hubungan di antara ubaha psikologis dan sosio-budaya, ekologis, dan ubahan biologis; serta mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung dalam ubahan-ubahan tersebut.
c. Etnosentrisme
Menurut matsumoto (1996) etnosentrisme adalah kecenderungan untuk melihat dunia hanya melalui sudut pandang budaya sendiri. Berdasarkan definisi ini etnosentrisme tidak selalu negative sebagaimana umumnya dipahami. Etnosentrisme dalam hal tertentu juga merupakan sesuatu yang positif. Tidak seperti anggapan umum yang mengatakan bahwa etnosentrisme merupakan sesuatu yang semata-mata buruk, etnosentrisme juga merupakan sesuatu yang fungsional karena mendorong kelompok dalam perjuangan mencari kekuasaan dan kekayaan.
d. kolektivisme
Kolektivisme adalah teori politik yang menyatakan bahwa kehendak rakyat adalah mahakuasa, seseorang harus mematuhi, bahwa masyarakat secara keseluruhan, bukan individu, adalah unit nilai moral.
e. Peran Gender
Peran Gender adalah perilaku yang dipelajari di dalam suatu masyarakat/komunitas yang dikondisikan bahwa kegiatan, tugas-tugas atau tanggung jawab patut diterima baik oleh laki-laki maupun perempuan. Peran gender dapat berubah, dan dipengaruhi oleh umur, kelas, ras, etnik, agama dan lingkungan geografi, ekonomi dan politik. Baik perempuan maupun laki-laki memiliki peran ganda di dalam masyarakat. Perempuan kerap mempunyai peran dalam mengatur reproduksi, produksi dan kemasyarakatan. Laki-laki lebih terfokus pada produksi dan politik kemasyarakatan.
f. Epistimologi Genetika
Epistemologi Genetika upaya untuk menjelaskan pengetahuan, dan dalam pengetahuan ilmiah tertentu, berdasarkan sejarahnya, sociogenesis, dan khususnya asal pengertian psikologis dan operasi atas mana hal itu didasarkan. Tujuan epistemologi genetik adalah untuk menghubungkan validitas pengetahuan untuk model konstruksi. Dengan kata lain, itu menunjukkan bahwa metode di mana pengetahuan diperoleh / dibuat mempengaruhi validitas pengetahuan itu.
g. Komunikasi Antar Budaya
Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini.
h. Akulturasi
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.
i. Enkulturasi
Enkulturasi adalah proses penyesuaian diri dengan adat –istiadat, lingkungan, sistem norma, dan aturan aturan hidup lainnya.
j. kemajemukan
Kemajemukan atau pluralitas merupakan suatu gejala sosial yang umum ditemui di setiap kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, diakui atau tidak, disadari atau tidak.



k. Multikutural
Multikultural dapat diartikan sebagai keragaman atau perbedaan terhadap suatu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain. Sehingga masyarakat multikultural dapat diartikan sebagai sekelompok manusia yang tinggal dan hidup menetap di suatu tempat yang memiliki kebudayaan dan ciri khas tersendiri yang mampu membedakan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain.
l. Konformitas

konformitas adalah seseorang berperilaku terhadap orang lain sesuai dengan harapan merupakan bentuk interaksi yang di dalamnya kelompok. ( Kamanto Sunarto, 2004 ).

m. Individualism
Suatu pandangan dan sikap yang menekankan kekhususan, martabat, hak, dan kebebasan individu.

n. Intelegensi Umum
Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional.

o. Ekologi
Ekologi biasanya diartinya sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbale balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya
PEMBAHASAN
Ringkasan Buku
Transmisi Budaya dan Biologis
AKULTURASI
Kehadiran orang Belanada di Indonesia, yang kemudian jadi penguasa, sangat mempengaruhi gaya hidup, bentuk bangaunan tradisional, serta fungsi ruangannya. Selain itu, alat perlengkapan rumah tangga yang biasa dipakai sehari-hari oleh rakyat pribumi juga mengalami perubahan. Lalu tujuh unsur universal yaitu bahasa, peralatan&perlengkapan hidup, matapencarian dan sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan, kesenian , ilmu pengetahuan dan religi juga ikut terpengeruh. Ketujuh unsur universal budaya itu bercampur dan percampuran antara kebudayaan Belanda dan Pribumi itulah yang disebut kebudayaan Indis.
Akulturasi yang terjadi antara budaya asing (Belanda) dan pribumi dapat dibilang cukup sukses, mengapa? Ya karena masing-masing budaya (Asing dan Pribumi) sama sekali tidak kehilangan ke khas-an nya. Contohnya pada masyarakat Jawa. Meski banyak sekali kedatangan para ‘tamu’ dari Eropa, Cina, Australia, dan India kebudayaan Pribumi Jawa dapat tetap bertahan. Local Genius pribumi Jawa mampu menanggapi kehadiran budaya asing secara aktif tanpa kehilangan kepribadiannya. Semua hal tadi menunjukan bahwa pribumi Jawa memiliki sikap open minded tolerance atau savoir vivre (lapang dada).
Bentuk bangunan
Pengaruh budaya asing khususnya Belanda yang datang ke Indonesia cukup besar. Selain mempengaruhi tujuh unsur universal budaya, pengaruh budaya asing juga ‘menjalar’ pada tata bentuk (arsitektur) bangunan/tempat tinggal. Meskipun bentuk dasar bangunan/tempat tinggal masih tradisional, tetapi pada beberapa tata letak dan ornamen-ornamen yang terdapat di bangunan/tempat tinggal tersebut ada pengaruh dari budaya asing. Contohnya adalah sebelum masa itu rumah-rumah orang pribumi tidak dilengkapi atau ada tempat pembuangan (jamban) atau pun tempat mandi di sekitar rumah maupun di dalam lingkungan rumah.
atau kali pada pagi hari. Setelah masuknya kebudayaan asing dan terbentuknya kebudayaan indis, rumah-rumah para non-pribumi atau keturunannya sudah mulai memiliki tempat pembuangan dan tempat mandi yang terletak di dalam halaman rumah. Lalu pada tahun 1870 masyarakat mulai mengenal kamar mandi yang terletak di dalam rumah seperti yang kita kenal.
Lalu pada rumah-rumah tersebut biasanya ada ornamen atau hiasan bergaya eropa. Contohnya pada puncak atap rumah yang terdapat hiasan seperti ukiran dan pahatan patung atau juga bentuk-bentuk seperti menara kecil yang menjulang tidak begitu tinggi.
ENKULTURASI
Pada masa kebudayaan Indis, enkulturasi terjadi dilingkungan pendidikan dimana pengaruh teman sekitar bagi seorang anak lah yang akan ‘membentuk’nya. Kebiasaan hidup mewah misalnya, anak-anak pada masa itu melihat cara para orang dewasa berpakaian, cara atau kebiasaan para orang dewasa merayakan sesuatu dengan berpesta (minum bir bersama contohnya).
BIOLOGIS
Suburnya budaya Indis pada awalnya didukung oleh kebiasaan hidup membujang para pejabat Belanda. Pada masa itu ada larangan membawa pasangan dan mendatangakan perempuan Belanda ke Hindia Belanda. Hal itu mendorong para lelaki Belanda menikahi penduduk setempat. Maka terjadilah percampuran darah yang melahirkan anak-anak campuran, serta sevara otomatis menimbulakan budaya dan gaya hidup Belanda-Pribumi/gaya Indis.
AWAL PENGEMBANGAN DAN PENGASUHAN
Pada keluarga bangsawan dan priyayi Jawa, anak-anak diasuh oleh para pembantu yang biasanya di sebut emban. Selain emban ada juga inya yang bertugas menyusui dan wuucumbu (abdi pendampng). Pembagian tugas yang seperti demikian ternyata diikuti juga oleh keluarga Belanda, Indo, dan priyayi baru. Anak-anak meraka diasuh oleh para babu, jongos, dan sopir. Para pembantu rumah tangga tersebut tidak hanya sekedar mengurus rumah tetapi juga menjaga anak-anak para majikan mereka dan pembagian kerja seperti itu tidak dikenal di negara Belanda.
Jelas dari hal tersebut, kelekatan (attachment) antara anggota keluarga misalnya anak dan orang tuanya tidak akan begitu kuat dikarenakan intensitas pertemuan dan melakukan kegiatan bersama, anak lebih sering dilakukan dengan pengasuh dan bukan orang tuanya sendiri. Perkembangan yang terjadi pada anak yang diasuh oleh para pengasuh tersebut juga akan berbeda dibanding dengan perkembangan anak pada masyarakat biasa.
KOGNISI SOSIAL
Contoh yang diambil adalah dalam hal pembangunan rumah tempat tinggal dan susunan tata ruangnya. Arti simbolik suatu bagian rumah sangant berkaitan erat dengan perilaku penghuninya. Pada suku Jawa, misalnya, tidak dikenal pembagian ruang khusus bagi keluarga dengan pembedaan umur, jenis kelamin, generasi, famili, dan bukan anggota penghuni rumah. Fungsi ruanagn tidak dipisah atau dibedakan secara jelas. Contoh lainnya adalah keselarasan sistem simbolik. Memang orang Eropa mengenal peletakan batu pertama dan pemancangan bendera di atas pemuncak bangunan mereka yang sedang dibangun dan diikuti dengan pesta minum bir, tetapi hal semacam itu adalah peninggalan budaya lama mereka. Kegiatan itu sudah lama mereka tinggalkan. Namun bagi orang Jawa, menaikan mala (tiang) sebuah rumah tinggal dengan selametan, melekan (wungon, bedagang), meletakan secarik kain tolak bala, sajen, dan memilih hari baik , memiliki arti simbolik tertentu bagi mereka. Bagi pribumi Jawa meninggalkan semua adat itu adalah berat.
KONFORMITAS
Dalam proses akulturasi kedua kebudayaan tersebut, peranan penguasa kolonial di Hindia Belanda sangat menentukan, sementara itu bangsa Indonesia menerima nasib sebagai bangsa terjajah, serta menyesuaikan diri sebagai aparat pengusa jajahan atau kolonial. Hasil perpaduan itu menunjukan bahwa kebudayaan Eropa lebih menonjol dan dominan.
Dari penggambaran di atas dapat kita simpulkan bahwa masyarakat pribumi melakukan konformitas atas dasar kelompok penguasa atau kolonial lebih ‘besar’ dan dominan. Meskipun terlihat budaya Eropa sangat dominan dan mayoritas pribumi yang melakukan konformitas dengan memilih menyesuaikan diri, pada akhirnya akulturasi tetap ‘berjalan baik’.

BAHASA
Sejak akhir abad ke-18 sampai awal ke-20, bahasa melayu pasar mulai berbaur dengan bahasa Belanda. Pembauran ini berawal dari bahasa komunikasi yang digunakan oleh keluarga dalm lingkungan “Indische landshuizen”, yang selanjutnya digunakan oleh golongan Indo-Belanda. Bahasa ini kemudian berkembang di Batavia. Di Jawa tengah dan Jawa timur proses perpaduan bahasa Belanda dan Jawa terjadi hanya pada sebagian masyarakat pendukung kebudayaan Indis. Proses ini menimbulkn bahasa pijin atau bahasa campuran, yang pada umumnya digunakan oleh orang-orang keturunan Belanda dengan ibu Jawa, oleh Cina keturunan, dan Timur asing.
Seperti bahasa pijin, bahasa kreol pun dapat diuraikan secara etimologis-terminologis. Istilah “creole” dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Spanyol yang artinya “kreolis”, “asli”. Karena itulah istilah “kreol” atau “kreolis” dalam arti linguistis pertama-tama dipakai di pulau-pulau west indies Prancis dan juga di Louisiana untuk menyambut bahasa-bahasa yang dipakai para budak. Dalam terminologi-linguistik dewasa ini seperti halnya bahasa pijin, bahasa kreol pun memiliki komponen linguistik, sosiologis, dan historis. Bahasa hasil campuran orang-orang Belanda dengan orang Jawa ini lazimnya di sebut bahasa peetjoek atau petjoek terutama sebelum perang dunia ke II di Semarang, Jawa tengah, dan sekelilingnya
PERKEMBANGAN BAHASA
Berita tertulis tentang wilayah pemukiman yang kemudian berkembang menjadi kota, sudah lama dikenal sebelum abad ke-19. Dalam disertasi F.A. Soetjipto tentang kota-kota pantai di sekitar Selat Madura terdapat informasi tentang sumber-sumber berita tertulis Pribumi, antara lain berupa babad, kidung maupun serat, baik yang masih berupa manuskrip maupun yang sudah dicetak dengan jumlah cukup banyak. Karya-karya tulis ini banyak ditulis di daerah pantai dan pedalaman Pulau Jawa.
Pada peristiwa ini, ada perkembangan bahasa dan relativitas linguistik. Terbukti dengan adanya beberapa sumber berita tertulis dalam bentuk manuskrip ataupun yang sudah dicetak. Dalam manuskrip pasti ada perkembangan bahasa, dan relativitas linguistic, karena sumber berita pasti menggunakan beberapa bahasa, dari bahasa pribumi, serapan, sampai bahasa orang eropa (belanda, inggris, dan lain-lain).
Pengamat dan peneliti sejarah kesenian Indonesia kuno mempermasalahkan nilai relief candi Borobudur sebagai sumber sejarah. N. J. Krom menilai pentingnya relief candi Borobudur sebagai sumber sejarah kehidupan masyarakat Jawa, sementara F.D.K Bosch meragukan kebenaran bentuk bangunan rumah pada relief bangunan tersebut benar-benar terdapat di Jawa. Penulis sependapat bahwa relief candi merupakan hal yang berharga bagi penelusuran sejarah masyarakat Jawa. Pada kaki asli candi Borobudur dengan relief karmawibangga, terdapat tu;isan-tulisan berhuruf dan berbahasa Jawa. Bukti ini menjadi petunjuk bahwa pelaksana pembangunan candi Borobudur adalah orang yang berbahasa dan menulis dengan huruf atau orang Jawa.
Dengan adanya tulisan berhuruf Jawa, jelas adanya perkembangan bahasa dari rakyat pribumi, walaupun budaya luar masuk, tapi masyarakat pribumi tetap mempertahankan dan melestarikan budaya dalam berbahasa agar terus berkembang.
PERSEPSI POLA DAN GAMBAR
J. Th. Bik dan adiknya A.J. Bik adalah pelukis dan penulis. Mereka menulis Aantekeningen Nopens een reis naar Bima, Timor, Moluksche Eilanden, Menado en Oost Java (1864). G.H: negel menulis Schetsen uit mijne Javaansche Portefeulle (1828). Selain sebagai peneliti, juga penulis sketsa. Berita visual berasal dari karya lukisan, sketsa, grafis dan potret.
Dalam hal ini sub-teori fungsi indera, persepsi pola dan gambar, rekognisi (mengenali) wajah, dan inteligensi umum termasuk didalamnya. Dari profesi mereka yang pelukis dan penulis, peneliti, juga penulis sktesa. Itu semua membutuhkan kecerdasan dan juga keahlian dalam menciptakan suatu karya dengan menggunakan beberapa sub-teori yang telah disebutkan.
Baru pada abad ke-19 dikirim para pelukis yang khusus melukis segala sesuatu yang berhubungan dengan penelitian. Misalnya, Junghun melukis berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, Rumphius melukis berbagai jenis binatang darat dan laut, dan Bemenllen melukis tentang alam. Lukisan para pelukis yang mengikuti ekspedisi ilmu pengetahuan tersebut dapat berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Dari perbedaan objek yang digambar oleh pelukis, jelas terciptanya akar sejarah dalam membentuk persepsi yang diasosiasikan dengan fungsi indera dan menghasilkan estetika-estetika psikologis lewat persepsi pola dan gambar.
Sayang sekali peninggalan seni lukis pada benda-benda keramik di Indonesia tidak di kenal. Bahkan sampai sekarang tidak ada tradisi melukiskan bangunan atau rumah pada karya keramik seniman dan pengrajin Indonesia, apalagi disertakan tulisan, untunglah ingatan generasi tua di Indonesia masih segar dan peninggalan bangunan rumah gaya indis masih cukup banyak tersebar di setiap kota di Pulau Jawa.

AKAR SEJARAH DALAM MEMBENTUK PERSEPSI
Benda-benda berupa karya lukis, karya sastra, foto gravir, sketsa, relief atau benda seperti maket yang dibuat oleh museum atau lembaga penelitian. Bentuk bangunan rumah Jawa zaman Majapahit atau zaman Jawa Hindu, orang dapat melihatnya dari gambar relief candi atau hasil seni sastra seperti Nagara Kertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca. Selain lukisan yang menggambarkan kehidupan sehari-hari, benda keramik dari masa Yunani dan Romawi kuno tersebut ada yang berlukiskan bangunan umum atau bangunan rumah tinggal.
Sesuatu yang telah diciptakan oleh seniman jaman Majapahit dan jaman Jawa Hindu meciptakan suatu akar sejarah dalam membentuk persepsi, dan mengahasilkan suatu persepsi pola dan gambar, beberapa karya yang diciptakan, menjadi kontekstualisasi kognitif bagi tiap orang.
GAYA KOGNITIF
Pengertian kota dan macam-macam jenis kota sudah ditulis oleh beberapa sarjana. Yang menarik ialah karya tulis Peter J. M. Nas yang membahas tentang kota yang dibedakannya dalam empat macam, yaitu: (1) kota awal Indonesia, (2), kota Indis, (3) kota colonial, dan (4) kota modern. Kota awal Indonesia disebut memiliki struktur yang jelas mencerminkan tatanan kosmologis dengan pola-pola social budaya yang dibedakan dalam dua tipe.
Dari beragamnya kota yang didefinisikan, terjadi transmisi budaya antara masyarakat pribumi dan Belanda, dan gaya kognitif jelas tercermin pada pembagian kota di Indonesia menjadi 4 bagian.
TRANSMISI BUDAYA
Budaya indis yang berkembang subur pada abad ke-18 sampai abad ke-19, dan berpusat di wilayah-wilayah tanah partikelir dan di lingkungan Indische landhuizen. Pada permulaan abad ke-20 kebudayaan ini bergeser ke arah urban life seiring dengan hilangnya pusat-pusat kehidupan tersebut.
Pergeseran Budaya Indis menjadi Urban Life menjadi transmisi budaya yang nyata dalam kehidupan masyarakat zaman dulu. Ada seuatu perubahan kebudayaan dari Indis menjadi kota (urban).
Kelompok-kelompok pemukiman, sesuai dengan lingkungan kelompok-kelompok suku, terpisah dengan jelas. Dalem kabupaten sebagai replica rumah penguasa tertinggi pribumi (raja) menghadap ke alun-alun dengan pohon beringin di tengahnya. Di sekitar dalem kabupaten terdapat rumah asisten residen atau kontrolir. Tidak jauh dari alun-alun terdapat gedung pengadilan, rumah penjara, gedung garam dan candu, kantor pos telegraf telepon (PTT) dan rumah para pejabat kabupaten baik pejabat eropa atau pribumi lainnya.
Maclaine Pont berpendapat bahwa pada awal abad ke-20 bangunan kota-kota di pulau Jawa sudah banyak menerima pengaruh seni bangunan Belanda. Pemukiman dan tempat tinggal penduduk di Kepulauan Hindia Belanda terbagi sesuai dengan golongan dan kebangsaannya. Ada empat golongan kebangsaan, yaitu: 1) orang negeri atau bangsa pribumi, 2) orang yang disamakan dengan anak negeri, 3) orang eropa, dan 4) orang yang disamakan dengan bangsa eropa.

GAYA KOGNITIF
Unsur utama kehidupan seni bangunan Jawa adalah adanya keharmonisan dengan alam sekeliling. Seiring perjalanan waktu, terdapat berbagai pengaruh budaya asing, termasuk bahan material yang digunakan. Di berbagai daerah di Jawa masih banyak ditemukan bentuk gaya asli, bahkan terdapat suatu kesatuan dalam gaya bangunan.
Gaya bangunan menjadi gaya kognitif bagi orang Jawa dan menjadi akar sejarah dalam membentuk persepsi hingga saat ini,
Gambaran monumental sesuai dengan gambaran ide keindahan sebuah lingkungan kota lama di Jawa dapat diamati di kota Yogyakarta. Kompleks Keraton Yogyakarta, termasuk perkampungan disekitarnya, merupakan tempat tinggal sultan dan para bangsawan serta hambanya. Di sepanjang parit terbentang jalan lebar yang ditanami pohon gayam.
MULTIKULTURAL, KOLEKTIVISME

Sejak zaman kuno, pusat kegiatan ekonomi di pulau Jawa adalah pasar, yang sekaligus berfungsi sebagai pusat transaksi antar wilayah sekitarnya. Di luar kompleks pasar terdapat pertokoan yang lebih dikenal sebagai pecinan sekaligus merupakan tempat bermukim masyarakat Cina. Di sekitar pertokoan Cina juga terdapat warung-warung milik pedagang kecil Pribumi yang mengusahakan bengkel, menjual barang bekas, penjual meracang kelontong dan penjuallainnya.
Dalam hal ini terjadi Enkulturasi dan sosialisasi, yakni proses pembentukan budaya dari dua bentuk kelompok budaya berbeda sampai munculnya pranata yang mantap. Kebersamaan yang terjalin menimbulkan kolektivisme, adanya konteks social, dan beberapa etnis menjadikan wilayah itu memiliki masyarakat yang plural akan budaya.
INTELIGENSI UMUM
Perkembangan ekonomi pada akhir abad ke-19, yang ditopang oleh pembangunan komunikasi, transportasi, edukasi dan birokrasi, kota jadi ,akin ramai dan berpenduduk lebih padat.
Edukasi menjadikan inteligensi umum menjadi sebuah sub-teori yang jelas dalam perkembangan yang terjadi pada akhir abad-19. Kecerdasan berperan penting dalam membentuk pembangunan.
Di Singapura, para arsitek menaruh perhatian pada hal semacam itu. Kemampuan jenius yang dimiliki rata-rata orang Inggris di British India tersebut seyogyanya dapat dilakukan oleh orang Belanda sebagai orang asing di bumi Hindia Belanda. Kemampuan jenius yang dimiliki orang Inggris menjelaskan suatu Intelegensi umum yang tinggi.
Jelas jika membicarakan tentang intelegensi umum, antara Bangsa pribumi dengan bangsa pendatang (Eropa Belanda) sangatlah berbeda. Intelegensi pada pendatang (Eropa Belanda) jelas lebih tinggi hal itu ditunjukan bahwa mereka dapat menyusun “starategi hidup” di tempat baru. Selain itu mereka bahkan mulai mendirikan sekolah-sekolah di daerah Yogyakarta pada tahun 1910-1930 untuk para pribumi demi memperluas ilmu pengetahuan yang dia dapat dari Eropa.
Bahkan antara gender warga pribumi saja dapat terlihat perbedaaan intelegensi. Lalu bukan hanya gender, status sosial pula menjadi faktor perbedaan intelegensi karena pada masa itu yang biasanya bersekolah di sekolah Belanda adalah para anak priyayi. Tetapi secara keseluruhan masyarakat pribumi khususnya Jawa, juga menunjukan bahwa mereka punya tingkat intelegensi yang baik yaitu Local Genius dimana masyarakat pribumi Jawa dapat mengorganisir dan menyaring setiap budaya yang berdatangan tanpa kehilangan budaya sendiri.
BUDAYA DAN KESEHATAN
Pengamatan tentang perbaikan pemukiman dan perumahan pribumi banyak kendalanya, khusunya pada bidang kesehatan. Yang paling memprihatinkan ialah berjangkitnya berbagai penyakit. Sesudah 1910 terjadi kekurangan bahan makanan di Jawa sehingga diperlukan impor beras dari berbagai negeri di Asia.
Pemukiman dan adanya suatu penyakit yang menular pada masyarakat menjelaskan budaya dan kesehatan
PERILAKU GENDER
Sekitar tahun 1910-1930 didirikan sekolah-sekolah di daerah Yogyakarta yang tersebar di sembilan desa. Sekolah pertama didirikan di Ganjuran pada tahun 1919, dengan 202 siswa semuanya pria. Siswa-siswa itu tidak hanya dididik agar menjadi seorang calon guru, tetapi mereka juga dijadikan tenaga rendahan di pabrik gula Gondang Lipura.
Pendidikan pada masa itu adalah alat penting untuk melatih seseorang agar dapat ‘memegang’ suatu posisi jabatan dalam suatu status masyarakat. Pada awalnya pendidikan hanya diprioritaskan pada siswa laki-laki, karena pendidikan dari bangasa Eropa itu dianggap kurang meresap dan kurang penting bagi perempuan karena perempuan dianggap hanya sebagai alat pendamping suami dalam bergaul dengan para pejabat Belanda. Lalu pada tahun 1920-1930 barulah ada perubahan. Siswa perempuan mulai ada dan para perempuan mulai ikut membantu dalam peningkatan pendapatan keluarga.
Jelas perbedaan terhadap gender sangat terlihat pada masa itu meskipun tidak berlangsung lama atau seperti sebelum masa itu. Perkembangan zaman secara tidak langsung memberi pengaruh pada perlakuan terhadap gender dimana status dianggap sama kecuali kodratnya masing-masing.

BILINGUALISME
Kedatangan bangsa Eropa (Belanda) dengan segala macam tujuannya ke tanah air secara langsung memberi ‘tuntutan’ baru terhadap mereka sendiri. Tuntutan seperti apa? Ya, mereka dituntut untuk dapat menguasai tata bahasa pribumi. Tuntutan itu bertujuan agar memperlancar semua kegiatan Eropa (Belanda) selama di Indonesia khususnya pulau Jawa. di sisi lain warga pribumi juga dituntut hal yang sama yaitu menguasai sedikit banyak bahasa orang Eropa (Belanda) tetapi jelas dengan tujuan yang berbeda yaitu untuk kegiatan perdagangan.
Dari hal itu muncul banyak dampak positif meskipun ada pula efek negatif. Tetapi efek positif yang terliat adalah kedua bangasa yang berbeda tersebut jadi menguasai dua bahasa berbeda, bahkan dapat memunculkan bahasa baru.
Kesimpulan
Kebudayaan Indis merupakan hasil perpaduan dua kebudayaan, yaitu Indonesia dan Eropa. Kebudayaan ini merupakan kepanjangan kebudayaan Indonesia, yang berdiri atas kebudayaan pra-sejarah, kebudayaan Hindu-Budha dan kebudayaan Islam di Indonesia. Kebudayaan ini juga merupakan produk dari kebudayaan barat. Kebudayaan Indis di Indonesia berakhir setelah kekalahan Hindia Belanda atas Jepang.
Meskipun kebuidayan Indis di Indonesia telah berakhir, ternyata di Belanda kebudayaan Indis tetap hidup. Hal ini terbukti dengan adanya pasar malam TongTon di Den Haag yang acaranya menggelar berbagai macam pertunjukan bertemakan seni Indis. Dapat kita ambil suatu pelajaran bahwa kemunculan budaya Indis merupakan suatu bukti bahwa perbedaan kebudayaan tidak selalu membvuat kita (Bangsa-bangsa) terpisah tetapi masih bergabung.
Namun ada beberapa peninggalan peninggalan kebudayaan Indis, antara lain :
1. Seni bangunan
Sampai akhir abad ke-20, banyak peninggalan seni bangunan gaya indis, baik berupa bangunan seperti gedung, benteng, perkantoran yang sudah digusur, atau rusak parah, namun beberapa ada yang masih berdiri dengan megah dan kokoh.
2. Seni Rupa dan Seni Kerajinan
Barang – barang peninggalan gaya indis antara lain seni lukis, seni patung (relief), dan seni kerajinan (termasuk seni Jauhari, yaitu kerjaninan membuat perhiasan dari emas, perak, dan batu – batu mulia) banyak yang tidak menjadi koleksi museum Indonesia, melainkan dimiliki oleh individu – individu sebagai koleksi.
Saran
Agar penulisan di buku selanjutmya lebih menarik, topik bahasan diperluas agar tidak membosankan dan menambah minat baca pada masyarakat luas. Pemilihan bahasa dalam kemasan yang lebih ringan, sehingga bisa dibaca oleh semua kalangan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Soekiman, Djoko. 2011. Kebudayaan Indis: Dari Zaman Kompeni Sampai Revolusi. Jakarta:
Komunitas Bambu
Wikipedia. Multikultularisme. http://id.wikipedia.org/wiki/Kebinekaan#Multikulturalisme_
di_Indonesia. Diakses 3 Oktober 2011.
Budaya.http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090313223100AASe5SiLintas Budaya. Diakses 3 Oktober 2011
Wikipedia.Akulturasi. http://id.wikipedia.org/wiki/Akulturasi. Diakses 3 Oktober 2011
Wikipedia.Psikologi Lintas Budaya. http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_lintas_budaya.
Diakses 3 Oktober 2011
Blogspot. Etnosentrisme. http://smartpsikologi.blogspot.com/2007/08/etnosentrisme.html.
Diakses 3 Okto ber 2011
Wikipedia. Multikulturisme. http://id.wikipedia.org/wiki/Kebinekaan#Multikulturalisme_
di_Indonesia. Diakses 3 Oktober 2011
BKP Penabur. Ekologi.http://www.bpkpenabur.or.id/files/Hal.125132%20Pembelajaran%20Eko
logi.pdf.Diakses 3 Oktober 2011

Blogspot. Pengertian Intelegensi. http://bknpsikologi.blogspot.com/2010/11/pengertian-inteleGe
nsi.html. 3 Oktober 2011

Google. Ensiklopedi politik popular pembangunan pancasila. http://books.google.co.id/books?id
=zdqfBQbB3UC&pg=PA94&lpg=PA94&dq=pengertian+individualisme&source=bl&ot
s=GU0FFwtoE5&sig=yVuuLMc-xWQMwNZhR4ur3k12O8&hl=id&ei=Q8mJTqHYH8
XirAep7vHrDA&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=4&sqi=2&ved=0CCsQ6AE
wAw#v=onepage&q=pengertian%20individualisme&f=false. Diakses 3 Oktober 2011

blogspot. Konformitas. http://psychemate.blogspot.com/2007/12/konformitas-sosial.html.
Diakses 3 Oktober 2011


NAMA KELOMPOK
Aji Purnomo (11509066)
Faniardhiny B (14509040)
Maizar Saputra (11509366)
Seto Wicaksono (11509204)
Tri Wulandari (12509172)
Vini Wahyuni Nabila (15509580)

Psikologi Lintas Budaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar